
Intip Berbagai Peluang Kolaborasi UMN dan Lac Hong University, Vietnam
Februari 6, 2026
Groundbreaking Tiga Gedung Baru, Multimedia Nusantara School Siap Hadirkan High School Berstandar Internasional
Februari 9, 2026
Foto bersama jajaran dosen dan mahasiswa digital journalism bersama The New York Times (Dok. UMN)
Tangerang, (05/02/2026) – Program studi Digital Journalism UMN menyelenggarakan kuliah tamu bersama The New York Times. Kuliah tamu bertajuk “The Future of The News and Media Industries”, dibawakan oleh Michael Greenspon selaku Global Head, Licensing & Print Innovation, The New York Times, dan dimoderatori oleh Dr. Ignatius Haryanto Djoewanto, S.Sos., M.Hum., selaku Kepala Program Studi Magister Ilmu Komunikasi.
Seiring berkembangnya teknologi, industri media terus mengalami berbagai perubahan. Dalam kuliah tamu bersama The New York Times, mahasiswa mendapatkan wawasan mengenai bagaimana lanskap bisnis media berkembang, mulai dari strategi bisnis, pemanfaatan teknologi, hingga tantangan menjaga kredibilitas di era digital.
“Transformasi media saat ini cukup berbeda dengan dulu, saat ini kita mengandalkan langganan (subscription) media online atau laman resmi The New York Times. Saya rasa dengan cara ini juga lebih mudah diakses masyarakat luas, namun walau begitu kami tetap memproduksi koran kertas”, jelas Michael.
Ia menjelaskan, bagaimana saat ini The New York Times memperluas cakupan topik media yang selaras dengan anak-anak muda, dan menekankan bagaimana pentingnya untuk terus melihat ketertarikan masyarakat luas baik dalam Amerika maupun luar Amerika.
“Hal ini sejalan dengan bagaimana The New York Times mengikuti perkembangan media sosial, saya rasa ini adalah tantangan sekaligus alat yang strategis untuk memperkenalkan produk-produk dari The New York Times. Kondisi ini yang menjadi acuan kami untuk tidak hanya membuat berita yang kredibel, tapi juga framing yang tepat”, ungkapnya.
Menyinggung mengenai media sosial, Michael beropini dengan adanya algoritma yang tercipta di internet cukup berbahaya untuk ruang publik. Hal ini karena adanya berbagai informasi yang tidak sesuai, dan dapat menggiring opini masyarakat ke suatu hal yang belum tentu benar atau disinformasi.
“Selain algoritma, fenomena ‘clickbait’ juga menjadi permasalahan yang marak. Banyak orang menulis clickbait yang memukau dan tidak sesuai untuk angka klik dan pembaca yang tinggi. Namun saat dilihat judul dan isi konten tidak selaras, dan permasalahan ini menjadi kesulitan yang harus kita hadapi”, tambahnya.
Melihat kembali waktu, The New York Times sendiri telah menginisiasikan kampanye internasional ‘Truth’, hal ini selaras dengan visi The New York Times untuk terus memberikan berita kepada masyarakat luas yang kredibel dan benar. Dengan kampanye ini juga menjadi komitmen mereka untuk terbuka baik kebenaran maupun perbedaan pendapat di masyarakat.
Tantangan Industri Media Dari Teknologi Hingga Pembungkaman

Pemaparan materi oleh Michael (Dok. UMN)
Selain media sosial, Michael menjelaskan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang menjadi salah satu tantangan dan juga ancaman terbesar bagi bisnis model The New York Times. Dimana, orang tidak lagi menggunakan search engines yang mengarahkan ke platform mereka namun menggunakan AI untuk mencari informasi.
“Perkembangan teknologi menjadi suatu hal yang kita tidak bisa hindari, sehingga kita sendiri melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan AI untuk menjaga intellectual property kami, serta menjalin berbagai kerja sama lainnya seperti training, transkripsi artikel ke audio, sampai peringkasan artikel di The New York Times”, papar Michael.
Penggunaan langsung AI yang dimanfaatkan oleh The New York Times sendiri mulai dari artikel audio, penerjemahan artikel ke berbagai bahasa lain, riset dan rangkuman artikel. Kedepannya, Ia mengungkapkan akan adanya inovasi lain yang memanfaatkan AI untuk mempermudah pelanggan mendapat informasi terbaru.
“Selain tantangan teknologi AI, tentu kita menghadapi berbagai tantangan secara publik. Sebagai industri media pasti dihadapi dengan berbagai pro dan kontra dari masyarakat. Berbagai pihak publik mengecam jurnalis The New York Times, namun hal ini tidak menghentikan kami untuk terus membicarakan kebenaran”, tegas Michael.
Michael juga membagikan bagaimana para jurnalis mendapatkan ancaman baik verbal maupun nonverbal seiring berjalannya waktu. Baginya hal terpenting yang bisa dilakukan industri media adalah menjaga, mendukung dan berdiri bersama para jurnalis.
“Kami akan terus berdiri dengan nilai dan prinsip yang sudah ada yakni jurnalis independen. Saya harap dengan kuliah tamu ini bisa memberikan pengetahuan yang berharga untuk mahasiswa jurnalis UMN, dan dapat menjadi platform media yang dapat dibaca para generasi muda”, tutup Michael.
By Rachel Tiffany | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.




