
Perkuat Jejaring Global, UMN Terima 34 Mahasiswa Pertukaran Pelajar Internasional
Maret 4, 2026Green Jobs & Sustainability: Karir Keren Jadi Environmental Auditor
Maret 5, 2026
Foto bersama prodi Teknik Fisika dan Arsitektur UMN bersama Yasuhiro (Dok. UMN)
Tangerang, (03/02/2026) – Program studi Teknik Fisika dan Arsitektur UMN mengadakan kuliah tamu bersama Assoc. Prof. Dr. Eng. Yasuhiro Shimazaki, dari Departement of Architecture and Civil Engineering, Research Center for Collaboration Area Risk Management, Toyohashi University of Technology, Jepang. Pada kuliah tamu kali ini Yasuhiro mengangkat topik “Physic Based Architecture Design”.
Dalam memperkuat pembelajaran terkait berkelanjutan, UMN terus membekali mahasiswa dengan berbagai topik dengan perspektif internasional. Pada kesempatan tersebut, Yasuhiro mendalami aspek fisika dalam desain arsitektur, khususnya dalam konteks arsitektur berkelanjutan di Jepang.
“Kita perlu mengetahui terlebih dahulu visi dunia saat ini mengarah kepada keberlanjutan, saat ini Jepang sendiri berfokus pada bangunan Zero Energy Building (ZEB) dengan target pencapaian pada tahun 2050. Hal ini tidak semata-mata untuk estetika saja, tapi melihat realita bahwa sektor bangunan menggunakan konsumsi energi yang tinggi”, jelas Yasuhiro.
Menurut Yasuhiro, ZEB bukan berarti bangunan tidak menggunakan energi sama sekali. Konsep ini menekankan pada pengurangan penggunaan energi tidak terbarukan (fossil fuel) serta perancangan bangunan yang mampu menghasilkan energi sendiri melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan.
“Melihat bangunan yang ada di Jepang, dari tradisional hingga modern, selalu memiliki prinsip lingkungan yang harmoni dengan alam. Mulai dari ruang, atmosfer, hingga perancangan desain arsitekturnya. Tentu dengan melihat segala faktor, bangunan di Jepang selalu dirancang dengan konsep berkelanjutan dimulai dari proses perencanaan hingga hasil akhirnya”, paparnya.

Pemaparan materi kuliah tamu oleh Yasuhiro (Dok. UMN)
Melihat dari kajian studi fisika dan arsitektur, bangunan berkelanjutan menjadi tujuan utama yang saat ini menarik perhatian publik. Di samping visi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait pembangunan berkelanjutan, bangunan gedung sendiri sudah memakan energi sebanyak 40%, dan isu ini tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga di benua lain seperti Eropa, Amerika, dan Indonesia.
“Bangunan memakan banyak energi dari elektronik, seperti pemanas (heater), lampu, air conditioner, charger, dan berbagai hal lainnya untuk kenyamanan manusia. Tentu dengan penggunaan energi yang berlebih dari bangunan memiliki dampak yang signifikan pada lingkungan dan kesehatan manusia”, tegas Yasuhiro.
Meluruskan hal ini, bukan berarti manusia harus bertahan tanpa penggunaan energi, namun misi yang terpenting adalah menyediakan solusi agar manusia tetap bisa nyaman beraktivitas di dalam bangunan maupun gedung.
“Menurut saya, kenyamanan manusia di dalam bangunan atau gedung tetap menjadi aspek yang penting, mengingat bangunan-bangunan ini memang diisi oleh manusia. Tidak bisa kita merancang gedung hanya memikirkan hemat energi tanpa melihat suhu, kelembapan, cahaya, suara dan berbagai hal psikologis lainnya”, tambahnya.
Yasuhiro membagikan bagaimana keadaan di Toyohashi, Jepang yang berpopulasi 370.000 penduduk. Ia mengungkapkan evaluasi yang dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif melalui pengukuran suhu, kelembaban, dan kualitas lingkungan, serta melalui persepsi manusia terhadap kenyamanan.
Mendalami pemaparan materinya, Yasuhiro menilai fisika tidak semata-mata membuat perhitungan saja. Lebih dari itu, studi fisika dalam bangunan arsitektur memiliki peran dalam membuat kondisi lingkungan lebih baik karena secara fundamental prinsip yang digunakan setiap negara berbeda jauh. Namun, tentu tetap harus melihat lokasi dan juga tradisi lokal.
“Lantas, bagaimana masa depan arsitektur di Indonesia menurut riset yang sudah ada? Menurut penemuan saya, Indonesia perlu mengetahui situasi yang ada baik kondisi iklim, latar belakang, dan diperlukan adanya pembanding, serta yang terpenting adalah memperkenalkan teknologi dan filosofi kepada generasi penerus bangsa”, tutup Yasuhiro dalam kuliah tamu.
By Rachel Tiffany | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.

